Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 14

Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 14by adminon.Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 14My HEROINE [by Arczre] – Part 14 BAB XIII: LOVE SICK #PoV Han Jeong# Hari ini aku tidak masuk sekolah. Semua ini dikarenakan papa dan mama masih khawatir dengan kondisiku. Profesor Andy bahkan sampai datang langsung dari Bogor untuk memeriksa sebuah alat yang menempel di punggungku kemarin. Di rumahku sekarang berkumpul banyak orang papa, mama, […]

tumblr_nwyg42VmvU1rhd5mwo4_500 tumblr_nwzmxlzY901ufm2eto1_400 tumblr_nwzmxlzY901ufm2eto2_400My HEROINE [by Arczre] – Part 14

BAB XIII: LOVE SICK

#PoV Han Jeong#

Hari ini aku tidak masuk sekolah. Semua ini dikarenakan papa dan mama masih khawatir dengan kondisiku. Profesor Andy bahkan sampai datang langsung dari Bogor untuk memeriksa sebuah alat yang menempel di punggungku kemarin. Di rumahku sekarang berkumpul banyak orang papa, mama, profesor Andy, Ryu dan Hana sama om Junior juga Tante Devita. Ryu dan Hana baru saja datang setelah pulang dari sekolah mereka langsung pergi ke rumahku.

“Bagaimana keadaanmu Han Jeong?” tanya Om Junior.

“Baik om, aku nggak apa-apa koq. Papa ama mama aja yang khawatir,” jawabku.

“Han Jeong, tentu saja semua orang khawatir. Karena ini serangan pertama, benar-benar aku tak menyangka ada orang yang melakukan itu, menanamkan virus ke dalam OS Black Knight!” kata Om Junior. “Aku saja yang ikut membantu Hana mencari celah di OS ini saja kebingungan, dia benar-benar pintar. Atau mungkin dia punya tim. Entahlah, tapi yang jelas orangnya mulai tahu tentang kita.”

“Siapa orang ini?” tanya Tante Devita menunjuk Ryu.

“Oh, dia Ryu. Orang yang aku ceritakan itu ma,” jawab Hana.

“Sumimashen, saya Ryu,” kata Ryu sambil cengar-cengir.

Aku melihat profesor sedang mengutak-atik komputernya. Beliau sampai membawa peralatannya di rumah sampai-sampai seluruh rumah penuh sesak.

“Anggota CCC? Katanya kamu ada tugas untuk mendapatkan Gnome-X, benar begitu?” tanya mama. “Sudah ada petunjuk?”

“Sebenarnya ada. Hanya saja, tempat itu terah terkubur. Ada di sebuah purau di Kepurauan Seribu yang duru pernah dijadikan raboratorium oreh profesor Kusanagi, kakek buyut saya. Tapi raboratoriumnya sudah hancur. Besar kemungkinan project Jinomu Ekusu juga sudah diambir. Saya perru menyeridiki rebih jauh di mana kemungkinan Jinomu Ekusu berada.”

Aku yakin Om Junior sekarang bingung apa yang diomongkan oleh Ryu. Bahkan beliau sampai mengernyitkan dahi.

“Dia orang Jepang pa, jadi wajar kalau nggak bisa bilang huruf L,” ujar Hana menjelaskan.

“Oh, aku mengerti. Pantas, sekarang kamu mau bantuan apa dari kami?” tanya Om Junior.

“Saya ingin tahu di mana Jinomu Ekusu sekarang ini,” jawab Ryu. “Tugas saya hanya membawanya pulang, itu saja.”

Setelah itu Ryu menjelaskan panjang lebar tentang keberadaannya di negara ini. Dia juga menyinggung tentang Project Super Human Soldier yang diprakarsai oleh kakek buyutnya Profesor Kusanagi.

“Profesor Kusanagi, aku jadi mengerti sekarang,” kata Profesor Andy.

“Apa prof?” tanya Om Junior.

“Profesor Kusanagi, Gnome-X, semuanya jadi jelas sekarang. Semua ini ada kejadian sekitar beberapa tahun yang lalu, ketika kalian Moon, Hiro, dan Faiz menggagalkan rencana genesis untuk mengambil memory para pemimpin dunia. Kita sebenarnya belum menghentikan mereka. Di saat waktu yang sama kala itu kelima menteri dibunuh, mereka terlibat Super Human Soldier. Kalau itu yang dimaksudkan adalah Gnome-X, maka semuanya hanya ada pada satu orang.”

“Siapa?” tanya Om Junior.

“Putra Nagarawan, dialah orang yang sangat ambisius untuk mendapatkan Gnome-X, project ini pun sebenarnya adalah lanjutan project dari SHS,” jelas Profesor.

“Kalau begitu dari semua yang telah kita punyai project Hypersuit adalah hasil dari SHS?” tanya papa.

“Benar sekali, tapi aku menggunakan teknologiku sendiri Nanobot, berbeda dengan project SHS. Mereka menggunakan Adamantium. Sayangnya menurut kabar project itu hilang, dicuri dan dikubur. Tak ada yang tahu bahkan aku sangsi Putra Nagarawan tahu tentang hal ini.”

“Sebentar bukankah Putra Nagarawan mencalonkan diri jadi presiden lagi?” gumam Hana.

“Benar, kalau misalnya dia mencalonkan diri jadi presiden dan kemudian jadi presiden, apa yang akan terjadi?” profesor melemparkan pertanyaan kepada kami.

“Kalau dia terlibat dalam pembuatan project Titan, genesis, project SHS, maka semua kekacauan ini….” aku bergumam.

“Benar sekali, ini semua belum berarkhir dan kita di ujung tanduk sekarang. Mereka mengetahui Hypersuit ada di keluarga Hendrajaya, mampu memasukkan virus ke dalam Black Knight, terlebih serangan barusan benar-benar ditujukan kepada kita. Kita sedang dalam bahaya sekarang. Kita harus pergi,” kata profesor Andy.

“Kemana?” tanya papa.

“Entahlah, yang penting mereka tak mengetahui kita lagi.”

“Lalu kakek? nenek? Yang lain?” tanyaku.

“Jangan khawatirkan mereka, mereka akan baik-baik saja,” kata Om Junior. “Mereka hanya akan mengincar kita karena kita yang membawa Black Knight.”

“Kita keluar kota, mengasingkan diri. Kita tunggu sampai keadaan membaik?” tanya papa.

“Kita kumpulkan kekuatan sampai aku selesai memperbaiki Hypersuit. Tak ada cara lain,” kata profesor Andy.

“Lalu bagaimana dengan Yuda?” tanyaku.

Semuanya menoleh ke arahku.

“Maksudnya?” tanya mama.

“Mungkin Yuda bisa membantu kita. Sewaktu ujian kenaikan tingkat kami pernah pergi ke sebuah tempat yang sepi di pinggiran kota, ke pedalaman. Di sana aku dan seluruh murid padepokan melakukan ujian.”

“Ide bagus itu, tapi apa bisa?” tanya Hana.

“Aku akan bicara ama Yuda,” kataku.

“Hmm, pastinya Yuda maulah bantu, masa’ pacarnya sendiri nggak mau dibantu,” kata Hana.

“Eh, darimana kamu tahu?”

“Tahu dong,” Hana mengedipkan mata.

Aku segera mengambil ponselku dan menelpon Yuda. Waduh, nggak aktif.

“Nggak aktif nomornya,” kataku.

“Habis batteraynya paling, kamu ke rumahnya sana !” kata Hana.

“Iya sana berangkat!” kata mama.

“Lho, koq semuanya nyuruh aku berangkat?”

“Han Jeong!” kata semuanya.

“Iya iya iya,” aku buru-buru keluar.

Aku mengambil sepedaku dan segera berangkat menuju rumahnya Yuda. Dari mana Hana tahu aku jadian ama Yuda ya? Ah mungkin dari gosip, Yah aku kan termasuk terkenal juga di sekolahan. Kenapa juga aku harus mengayuh sepeda sampai ke rumahnya Yuda? Rese’ benar nih orang-orang. Aku kemudian sampai juga di depan rumahnya. Eh, aku lihat dia barusan turun dari angkot. Wah, ternyata dia baru keluar. Ketika melihatku dengan sepeda ia sedikit terkejut.

“Lho, katanya sakit? Aku hampir saja mau pergi ke rumahmu,” kata Yuda.

“Oh ya?” aku terkejut ketika dia bilang ingin pergi ke rumahku. Yah, sedikit tersanjung juga.

“Masuk?” tanyanya.

“Ehmm….ayah dan ibumu?” tanyaku.

“Oh, mereka sedang ada urusan, pergi ke Karimun Jawa,” jawab Yuda.

“Hah? ada apa ke sana? Liburan?”

“Lebih tepatnya, mengunjungi teman lama.”

“Teman lama?”

“Aku juga nggak tahu. Yuk!?” Yuda mengajakku untuk masuk rumahnya. Akhirnya aku pun mengikuti dia. Sepeda aku parkirkan di halaman. Yuda kemudian menutup pagar. Setelah itu ia mengambil kunci dari sakunya dan membuka pintu rumah. Rumahnya Yuda cukup besar dalemnya. Hmm, kalau aku tinggal di sini gimana ya nantinya? Bersihin ruang tamu, ngepel, hmm eh tapi cukup rapi, sepertinya ibunya Yuda rajin orangnya. Aku bisa nggak ya rajin seperti beliau. Eh,….koq aku mikirin itu sih??? Kejauhaaaann!

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Yuda.

“Nggak apa-apa,” kataku. “Ngomong-ngomong kamu dari mana?”

“Oh, tadi Brooke minta dianterin beli hadiah untuk ibunya.”

Aku lalu duduk di sofa ruang tamu.

“Kayaknya ada yang berubah ya rumahmu,” kataku.

“Hmm? Sepertinya nggak. Kamu saja yang jarang masuk,” katanya.

“Oh iya, lho kamu mau kemana?” tanyaku.

“Mandi dulu. Kamu kalau ingin minum atau apa bikin sendiri yah. Tahu kan tempatnya?”

Aku mengangguk.

Yuda pergi ke kamarnya, kemudian tak berapa lama keluar lagi sambil bawa handuk pergi ke belakang. Aku duduk saja di sofa. Nunggu dia. Duh, ngomongnya gimana ya ntar?

Yuda aku itu Black Knight, percaya nggak?

Yuda, aku ingin jujur ama kamu, aku ini Black Knight dan keluargaku di serang butuh bantuan. Bisa nggak?

Yuda aku ingin sembunyi, bisa tolong?

Yuda, kalau pacarmu butuh bantuan kamu bisa nggak bantu?

Hadeeeehh….gimana dong?

Aku bingung sendiri. Akhirnya aku nonton tv aja. Kunyalakan tv yang ada di ruang tamu itu. Kemudian aku peluk guling dan bersandar di sofa. Mungkin karena nyamannya aku pun terlelap. Dalam tidur aku rasanya nyaman banget, hangat.

JDERRR! Tiba-tiba terdengar suara guntur. Aku terbangun. Oh, aku tadi tertidur rupanya. Lho, ada selimut? Aku lihat Yuda tampak tertidur di bawah dengan bersandar di sofa. Aduuuhh…aku jadi merepotkan dia. Eh, tapi dia yang ngasih aku selimut ya? Waaahh…romantis banget dia.

Ehmm…lehernya nggak capek ya bersandar gitu? Duh rambutnya berantakan. Tapi Yuda emang dia suka berantakin rambutnya. Aku lalu bangun dan turun dari sofa duduk di sebelahnya, bersandar di pinggiran sofa sama seperti dirinya. Lalu aku menyelimuti tubuh kami. Hihihihi, rasanya nyama kalau gini. Lalu perlahan-lahan aku bersandar ke dadanya.

Yuda menggeliat dan ia terbangun. “Lho, Han Jeong?”

Aku mendusel ke dadanya sambil aku peluk.

“Nggak tidur di atas saja?” tanyanya.

“Nggak ah, aku ingin begini,” jawabku.

“Jangan gitu, ntar sakit,” katanya.

“Aku sudah sakit Yud.”

“Oh ya? Sakit apa?” Ia menempelkan tangannya ke dahiku.

“Sakit cinta,” jawabku.

Yuda mencubit hidungku. “Dasaaarr!”

Kami terdiam beberapa saat. Di luar hujan lebat. Petir menggelegar berkali-kali. Aku kemudian melihat ponselku. Waduh, udah jam satu malam. Ada beberapa panggilan masuk. Dari mama. Pasti beliau khawatir.

“Mamamu tadi telepon aku, aku bilang kamu ketiduran di sofa, jadinya nggak berani bangunin aku. Trus ia bilang ya sudah nginep sini aja kalau gitu,” kata Yuda.

“Oh ya?” tanyaku.

Yuda mengangguk. AKu melihat Inbox SMS. Ada pesan dari Hana. Aku buka.

Cieeee….pake modus ketiduran di rumah Yuda, bilang aja ingin berduaan nggak mau diganggu.

Hanaaaa! Huh, sebel. Goda aku di saat begini. Aku kemudian bales SMS-nya.

>_< eh, kamu bisa tahu aku jadian ama Yuda bagaimana caranya? Nggak ada jawaban. Paling juga udah tidur itu anak. Aku lalu meletakkan ponselku dan kembali memeluk Yuda. “Hei, kamu tidur di kamarku saja sana!” kata Yuda. “Ogah ah, di sini aja,” kataku. “Di sini dingin lho,” katanya. “Kan ada kamu,” kataku. “Nanti kalau terjadi sesuatu gimana?” “Maksudnya?” “Yah, terjadi sesuatu. Kita kan udah sama-sama dewasa. Kalau salah satu dari kita nggak kuat?” “Ya kuat-kuatin ajah.” “Sejujurnya aku nggak kuat, Jung.” “Nggak kuat buat apa?” “Buat nyium kamu. Wajahmu terlihat cantik ketika tidur, natural, kepengen nempelin bibirku ke bibirmu pas tidur tadi. Tapi aku takut.” “Takut kenapa?” “Takut kalau diangap cari kesempatan.” “Cium aja nggak apa-apa.” “Boleh sekarang ciumnya?” Aku mengangguk. Aku mendongakkan kepalaku. Perlahan-lahan bibirku pun dikecup oleh Yuda. Ohh…hangat. Dadaku berdebar-debar. Kami berciuman sambil berpelukan di dalam selimut. Kini lidahku dihisap olehnya. Ohh…dia kencang sekali menghisap lidahku. Aku pun tak mau kalah. Aku menghisap ludahnya. Ludah kami pun sekarang bercampur. Kami saling memagut. Yuda menciumku dengan penuh perasaan. Aku tak pernah merasakan ciuman seperti ini sebelumnya. Tubuhku pun kemudian beringsut duduk di atas pangkuannya. Selimut itu pun sudah jatuh. Kini tanganku merangkul lehernya dan pantatku menduduki tepat di atas kemaluannya yang sekarang mengeras. “Yud, punyamu mengeras,” bisikku. “Kenapa? Wajar kan? Ada bidadari di depanku dan mendudukinya, bagaimana nggak keras?” Aku pun menggerak-gerakkan pantatku. Pasti celanaku membuatnya sakit. Memang aku memakai celana selutut dan kaos yang dibalut kemeja hijau. “Yud, aku tak bisa menceritakan perasaanku sekarang, tapi….aku sangat mencintaimu,” kataku. “Aku tahu,” katanya sambil beberapa kali mengecup bibirku. “Aku ingin melakukannya Yud,” kataku. “Hah?” dia terkejut tentu saja. Tapi aku sangaaaaaaaaaaaaaaaaatt cinta kepadanya. Aku ingin memberikan sesuatu yang tak akan dia lupa. Aku ingin memberikan milikku yang paling berharga. Aku sudah cinta mati kepadanya. Setiap hari aku selalu teringat dia. Terlebih aku yakin hanya Yudalah satu-satunya yang bisa memberikanku kelegaan dari dahaga cintaku ini. Walaupun aku tak yakin dengan statusku sebagai Black Knight, apakah dia akan sanggup menerima seorang kekasih seorang superhero. “Tolong ya? Aku ingin memberikanmu ini, lakukanlah dengaku malam ini,” kataku. “Tidak Jung, ini terlalu cepat,” katanya. Dia masih bersifat gentlemen sampai sekarang. Aku suka dia. Aku suka sikapnya ini. “Aku mengijinkannya Yud, aku mengijinkannya,” kataku. “Pliss, biarkanlah kamu jadi yang pertama bagiku. Aku ingin memberikan ini kepadamu, lakukanlah!” “Jung, aku tak tega. Aku belum siap,” kata Yuda. Aku mengelus-elus kepalanya sejenak, kemudian aku lepaskan baju atasku satu persatu. Ini semua demi orang yang aku cintai. Yuda terpesona melihat kedua buah dadaku yang masih terbungkus bra warna putih. “Jung, aku…aku…,” Yuda terbata-bata. “Yuda, setidaknya berikanlah aku perasaan cintamu,” kataku. “Aku tahu mungkin kamu takut melakukannya tapi sentuhlah, ciumlah!” “Ohh….Jungg…,” Yuda pun akhirnya menciumi leherku. Aku dipeluknya erat. Kini bibirnya bergeser ke bawah, ke dadaku, diciuminya, dihirup aromanya. Aku benar-benar terangsang sekarang. Ya, inilah pertama kali seorang pria mau menghirup aroma tubuhku secara langsung, apalagi kini menciumi buah dadaku. Tangan Yuda mulai menyentuh buah dadaku yang masih berbalut bra. Kemudian tangannya bergerilya di belakang punggungku melepaskan kaitan branya. Aku pun melepaskan braku dan melemparnya. “Jung, dadamu indah sekali,” kata Yuda. “Aku tak tega menyentuhnya.” “Sentuhlah Yud, sentuhlah!” kataku. Yuda akhirnya menyentuh buah dadaku. Ohh…terasa hangat sekali tangannya. Hawa dingin yang tadi menusuk karena hujan pun sekarang terasa hangat oleh sentuhan-sentuhan Yuda. Putingku dipijat-pijatnya. Warnanya coklat kemerahan dengan ujungnya yang sudah mengeras. Ketika ia memencet puting kananku, serasa aku benar-benar lemas, geli, enak. Hingga aku menjerit kecil. Kini mulut Yuda mencaplok puting sebelah kanan itu. “AAAAHhhhh!” Yuda mengelamuti putingku itu, menghisapnya dan menggelitikinya dengan lidahnya. Ahhh…nikmat sekali, aku baru kali ini merasakannya. Ternyata tak perlu lama untuk kami berdua bergelut dengan birahi. Aku menarik kaos Yuda, tampaklah dada bidangnya. Oh Yuda, dia benar-benar perkasa. Badannya kekar. Duh…aku takluk Yuda, aku takluk padamu. Perlahan-lahan Yuda membaringkanku di atas karpet. Kami berciuman lebih panas dari sebelumnya. Yuda pun menyelimuti tubuh kami dengan selimut walaupun itu tak berarti karena tubuh kami benar-benar sudah panas. Aku membantu melepaskan celanaku sendiri. Yuda ikut membantuku hingga kami berdua sekarang tak memakai busana sehelai pun. Yuda menatap seluruh tubuhku yang tak tertutup sehelai benang pun. Ia terpana seperti baru melihat sesuatu yang sangat menakjubkan. Aku pun begitu, melihat tubuh Yuda seutuhnya, ini adalah pertama kalinya aku melihatnya. Aku malu melihatnya. Terlebih kulihat keperkasaannya yang sudah menegang, mengacung di hadapanku. Aku memejamkan mataku dan menoleh ke kanan. “Jung, tubuhmu indah sekali,” katanya. “Kamu yakin aku melakukannya kepadamu? Aku bahkan tak tega untuk menyentuhnya Jung.” Aku lalu menarik tangannya. Kini Yuda ambruk di atas tubuhku. “Kenapa kamu harus takut Yud?” kataku sambil memejamkan mata. Rasa hangat menjalar ketika kedua dada kami berhimpit. Yuda menarik selimut sehingga punggungnya tertutupi selimut. Terasa kemaluan Yuda sudah menempel di pintu masuk kemaluanku, bibir kemaluanku mulai berkedut-kedut mengeluarkan cairannya. Aku baru pertama kali merasakan kemaluanku segatal ini. “Han Jeong, maafkan aku. Aku baru pertama. Kalau misalnya aku salah, atau kamu merasa sakit aku akan berhenti,” katanya. “Tak apa Yud, aku pasrah sekarang. Lakukanlah, aku akan menahannya,” kataku. Yuda memegangi batangnya dan sekarang mulai mendorongnya. Aku membuka sedikit mataku, kulihat ia memejamkan matanya. Ahh…keras sekali miliknya. Aku membuka pahaku lebar-lebar, aku sudah siap Yud. Masuklah, masuklah cintaku. Masuuk…Ehhgghh…..Aku menggigit bibirku saat ujung kemaluannya menerobos masuk. Ahk…sakiiitt….Ohhhkk! “Juungg…nikmat sekali Jung…aahhh!” “Yuud, cium aku Yuud!” pintaku. Kami berciuman hangat dan Yuda mulai lembut menggerakkan maju mundur pinggulnya. Bibir kemaluanku mulai menerimanya. Kemudian Yuda mendorongnya kuat. “Aaaaahhkkk!” aku menjerit. Robek sudah selaput daraku. Dan aku telah memberikannya ke Yuda. Cowok yang sangat aku cintai. “Jung?! Sakitkah?” tanyanya. Aku menggeleng. Kini Yuda terus menggoyang pinggulnya dengan lembut, pelan, tidak terburu-buru. Aku merangkul lehernya, dia menghimpitku. Ahh…nikmat sekali. Inikah rasanya bercinta itu. Yuda, kamulah yang pertama menerobos liang senggamaku. Aku cinta kamu Yud. Milikilah aku, aku tak menyesal melakukannya, aku sama sekali tak menyesal. Jadilah cintaku untuk selamanya, aku berjanji akan setia kepadamu cintaku. “Yuda, cintaku….” bisikku. “Han Jeong, sayangku. Ohh…aku akan setia kepadamu, aku sangat mencintaimu,” katanya. Dan kami pun akhirnya berpacu untuk menuju ke puncak persenggamaan ini. Semburan mani kedua kemaluan kami pun mengakhiri pergumulan hangat ini. Ahh…aku lelah, lelah dengan kenikmatan ini. Rasanya benar-benar capek. Tubuh kami masih menyatu, kami bertatapan lama sekali, sesekali kedua bibir kami menyatu. Pinggul Yuda bergoyang lagi. Oh tidak, dia ingin lagi? Aku mengangguk kepadanya. Dia pun menggerakkan lagi pinggulnya. Entah berapa lama kami bercinta malam itu, rasanya malam itu lamaaaaaa sekali. Kami pun tertidur sambil berpelukan di atas karpet ruang keluarga. Yuda…..dia merangkulku, memelukku dari belakang. Inilah dimulainya lembaran cinta kami, ke depannya aku yakin halang rintangan akan menghadang kami. Hujan masih belum berhenti, sementara aku sudah terbuai mimpi. Berbagi selimut dengan kekasihku, sang pangeran hatiku. (bersambung….)

Author: 

Related Posts